Adnan Fadhillah
Percakapan Tidak Setuju Terhadap Hukuman Mati
A: Hi, what are you reading? (Hai, apa yang sedang kamu baca?)
B: I am reading this book about death penalty. It’s said that death penalty started in eighteenth century. (Aku sedang membaca buku tentang hukuman mati. Dikatakan bahwa hukuman mati mulai ada pada abad delapan belas)
A: That’s interesting. How about now? Is the death penalty still used? (Itu menarik. Bagaimana dengan sekarang? Apakah hukuman mati masih digunakan?)
B: Yes, in some countries. (Masih di beberapa negara)
A: That’s horrible. I don’t agree with the death penalty. (Itu buruk sekali. Aku tidak setuju dengan hukuman mati)
B: Why? (Mengapa?)
A: It’s because the death penalty violates the right to life. We’re not God, so it’s not our job to determine if someone must die. (Itu karena hukuman mati melanggar hak untuk hidup. Kita bukan Tuhan, jadi bukan tugas kita untuk menentukan apakah seseorang harus mati)
B: That’s interesting point. I have to agree with you. (Itu poin yang menarik. Aku setuju denganmu)
A: Thank you. (Terima kasih)
Percakapan Tidak Setuju Terhadap Eutanasia
A: I just read this news about a man with cancer who begged his doctor to euthanize him, but the doctor refused his request. (Aku baru saja membaca berita tentang seorang pria penderita kanker yang meminta dokternya untuk melakukan eutanasia terhadapnya, tetapi dokter menolak permintaannya)
B: So? (Jadi?)
A: Isn’t the doctor cruel? I mean, the man just wanted to end his suffering, but he refused to help him. (Dokternya jahat, ya? Maksudku, pria itu hanya ingin mengakhiri penderitaannya, tetapi dia menolak menolongnya)
B: In my opinion, the doctor isn’t cruel. (Menurutku dokternya tidak jahat)
A: Why? (Mengapa?)
B: It’s because I don’t support euthanasia. (Itu karena aku tidak mendukung eutanasia)
A: And why is it? (Mengapa?)
B: Euthanasia is an assisted suicide. I know that the patient requested it to end his pain and suffering, but death isn’t the right solution to that. He has to survive and continue his life, and let death come naturally. (Eutanasia adalah bunuh diri yang dibantu. Aku tahu bahwa pasien memintanya untuk mengakhiri rasa sakit dan penderitaannya, tetapi kematian bukanlah solusi yang tepat. Dia harus bertahan dan melanjutnya hidupnya, dan biarkan kematian datang secara alami)
A: But what if he really couldn’t stand his pain? (Tetapi bagaimana jika dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya?)
B: Yes, he could. God won’t test him beyond his capabilities. (Dia pasti bisa. Tuhan tidak akan mengujinya di luar kemampuannya)
A: Oh, I see your point. (Oh, aku paham maksudmu)
Komentar
Posting Komentar